Jakarta//Peristiwa news – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan setiap calon kepala daerah maupun birokrat harus memiliki tiga fondasi kepemimpinan, yakni ideologi, strategi, dan taktik.
Menurut Bima, ketiga aspek tersebut menjadi bekal penting agar pemimpin mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai kebenaran dan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan transaksional maupun popularitas sesaat.
“Calon pemimpin harus memiliki nilai dan pegangan agar tidak mudah dibeli oleh kepentingan transaksional,” ujar Bima saat kegiatan Bedah Buku Babad Alas di Institut Pemerintahan Dalam Negeri Papua, Jayapura, Senin (22/6).
Ia menjelaskan, ideologi berfungsi sebagai kompas arah kebijakan, sementara strategi menjadi cara mewujudkan nilai tersebut dalam program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Adapun taktik diperlukan untuk memastikan program dapat dieksekusi secara efektif.
Bima mencontohkan penerapan strategi “mencicil harapan” saat memimpin Bogor. Melalui pendekatan tersebut, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bogor meningkat dari Rp544 miliar pada 2014 menjadi Rp1,458 triliun pada 2024 atau naik 167,9 persen. Sejumlah program pembangunan juga terealisasi, termasuk revitalisasi taman kota seluas 15 hektare dan pembangunan jalur pedestrian sepanjang 30 kilometer.
Bima menegaskan, pemimpin tidak cukup hanya memahami teori dan konsep kebijakan, tetapi harus turun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Masalah itu ada di lapangan, bukan di belakang meja,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan memimpin merupakan amanah yang terbatas waktunya. Karena itu, setiap calon pemimpin harus mempersiapkan diri sejak dini agar mampu memanfaatkan masa pengabdian untuk menghadirkan perubahan yang nyata bagi masyarakat.
Int-red


















